Seperti wadah yang kau curahkan seluruh rasa
Ia tumpah
Tepat di samping pintu kereta
yang tak lagi keluarkan asap bahkan jelaga

Kakek tua melihat kebingungan,
Aku pun sama pada refleksi kaca
Ini elegi, bukan eulogi
Jangan perlakukanku seperti orang mati

Padamu, sekali lagi,
Sepotong roti ku belah dua
Untukmu seluruhnya

Pas kah?

--

--

Mau sejauh apapun aku melangkah, segalanya kembali jadi pembelajaran, tersirat maupun tersurat.

Bahwa jangan sekali-kali kau percaya itu orang yang tidak bisa dipegang omongannya. Tidak konsekuen dengan pilihan yang diambil. Orang-orang itu layak ditempatkan di kasta terendah manusia. Kalau kebanyakan cuma jadi sampah masyarakat.

Bukan juga pekerjaanku untuk mendaur ulang dan membuatnya bermanfaat. Karena sampah memang ditakdirkan jadi benda mati yang tak berotak sehingga susah buat menjadikan dirinya sendiri bermanfaat. Selalu butuh bantuan pihak lain. Contoh saja sampah organik, memang dia didiamkan saja juga bisa berguna cuma kalau tidak dikumpulkan sama Pak Pemulung Sampah, tidak bisa dijadikan pupuk bahkan bahan bakar. Atau bahkan kalau tidak ada mikroorganisme yang menjadi pengurai, akhirnya sama saja, nirguna.

Ah sudahlah, ini tulisan isinya cuma misuh.

Ditulis di Hari Valentine termenyebalkan tahun 2022 dari Kereta Jogja-Bandung.

--

--

Ravinska Minerva Azura

Ravinska Minerva Azura

kemelut isinya gurauan yang tidak lucu. ia bekerja sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahananku. kurang penting